Kamis, 15 Maret 2018

Perhatikan Siapa Teman Dudukmu



Oleh :
Reza ibn Muhdhor Assegaf Som


Berbicara tentang rezeki mungkin di benak kita wujudnya selalu berupa uang dan  berupa kekayaan tetapi ada yang jauh lebih bermanfaat dari itu yaitu rezeki yang diberikan Alloh kepada kita berupa "Teman yang baik yang senantiasa mengingatkan kita kepada kebaikan dan di dekatkannya kita kepada orang-orang sholih dan 'Aalim.” Sahabat yang sholih sangat bermanfaat bagi kita bukan hanya tatkala kita di dunia saja tetapi tatkaa kita di akhirat sahabat yang sholih dapat bermanfaat bagi kita semua yaitu dengan memberikan syafa’at kepada kita kelak di akhirat.
            Begitu berharganya sahabat yang sholih, Sayyidina Umar bin Khattab mengatakan bahawasanya : “Nikmat yang paling berharga setelah nikmat iman dan nikmat islam adalah nikmat memiliki teman yang Sholih.”
               
                Pada hakikatnya sebuah pertemanan yang ada di dunia ini hanyalah kesia-siaan kecuali pertemanan yang dilandasi keimanan dan kencintaan kepada Alloh serta saling mengingatkan kepada jalan kebaikan.
الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ –٦٧-
Artinya : “Teman-teman karib pada hari itu (kiamat) nanti saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”

            Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : “Bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Alloh, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Alloh inilah yang kekal.”

Rasulullah memberikan kriteria-kriteria teman yang hendaknya kita gauli yang ternukil pada satu hadits:
Suatu ketika Ibnu Abbas RA pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, "wahai Rasulullah,  siapa teman duduk terbaik?".
Rasulullah menjawab :
"Yaitu teman duduk yang melihatnya dapat mengingatkan kaliyan kepada Alloh,  Ucapannya dapat menambah ilmu kaliyan, dan ilmunya dapat mengingatkan kaliyan kepada akhirat." (HR. Abu Ya'la)
Disebutkan dalam hadits tersebut
1. "melihatnya dapat mengingatkan kaliyan kepada Alloh" yang di maksudkan disini adalah orang yang baik/sholih memiliki pancaran tersendiri, memiliki daya tarik sendiri maka dengan melihat kesunggguhan mereka beribadah kepada Alloh maka akan menarik kita untuk mengingat kepada Alloh
2. "Ucapannya dapat menambah ilmu kaliyan" yang dimaksudkan disini adalah orang baik/sholih pasti yang mereka ucapkan bukanlah ucapan yang tidak bermanfaat,  maka yang keluar dari mulut mereka perkataan-perkataan hikmah yang mengandung ilmu di dalamnya"
3. "Ilmunya dapat mengingatkan kaliyan kepada akhirat"
            Tetapi ironisnya di zaman sekarang ini orang-orang shalih, 'ulama bukan dijadikan teman duduk melainkan mereka justru di diskriminalisasi, di hina,  di lecehkan keadaan berbanding terbalik dengan salafush shalih pada zaman dahulu yang mana mereka sangat menghormati dan menjaga adab mereka kepada orang-orang yang shalih dan para 'Ulama karena memang para Ulama’ ini haruslah dihormati di jadikan sebagai teman dan panutan karena mereka adalah pewaris para nabi.
Al-Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith, mengatakan :
"Kebaikan dan keburukan tertanam benihnya dalam diri manusia,  ia tidak akan nampak kecuali ketika ia bergaul dengan orang lain,  jika ia bergaul dengan orang-orang baik maka akan nampak padanya perbuatan baik. Dan jika ia bergaul dengan orang-orang yang suka berbuat buruk,  maka akan nampak perbuatan buruk darinya.
            Jadi,  benih-benih kebaikan dan keburukan ini sejatinya sudah ada pada diri kita, tergantung yang mana yang hendak kita sirami. Ketika kita menyiram benih kebaikan maka benih kebaikan itu akan tumbuh dan benih keburukan dengan sendirinya akan mati begitu sebaliknya ketika kita menyirami benih keburukan maka yang akan tumbuh adalah benih keburukan dan benih kebaikan akan mati dengan sendirinya itu semua tergantung dengan siapa kita bergaul
Al-Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad RA mengatakan :
"Ketahuilah bahwa bergaul dengan orang yang baik dan duduk bersama mereka dapat menanamkan kecintaan kalian kepada kebaikan di hati dan memiliki andil dalam membantu untuk melakukan kebaikan, sebagaimana bergaul dengan orang yang buruk perilakunya dan duduk bersama mereka dapat menanamkan kecintaan kalian kepada keburukan dalam hati dan keinginan berbuat buruk."
            Apabila kita ingin melihat cerminan diri kita, perangai kita,  bagaimana agama kita,  maka lihatlah dengan siapa kita berteman.  Ketika kita berteman dengan orang yang baik maka in syaa Alloh bisa dipastikan kita akan sama dengan mereka karena teman kita adalah orang-orang yang baik dan ketika kita berteman dan bergaul dengan orang orang yang buruk maka kita tidak akan lebih dari mereka.



Dalam hadits dikatakan :
الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
Artinya :"Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka perhatikan salah satu dari kaliyan siapa yang dijadikan teman"
            Rasulullah  sangat mewanti-wanti kita semua untuk berteman/bergaul dengan orang yang baik/sholih dan meninggalkan teman-teman yang buruk perilakunya. Dalam pepatah jawa pun di sebutkan "Ojo Cedak Kebo Gupak" yang apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah “Jangan Mendekati Kerbau yang Kotor”. Pepatah tersebut mengajarkan kepada kita bahwasannya dalam pergaulan kita sehari-hari harus jeli dan sangat berhati-hati dalam memilih teman, mendekat saja kita dilarang apalagi kita jadikan sebagai teman karib kita karena sudah bias dipasikan bahwasannya seorang teman  dapat mempengaruhi agama, perilak, cara pandang seseorang.
Suatu permisalan ketika kita bergaul, ketika kita berteman dengan orang yang berjualan minyak wangi maka kita juga akan dapat harumnya minyak wangi tersebut. Dan ketika kita bergaul,  berteman dan mendekati seorang pandai besi maka kita akan terkena bau asapnya.

Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi mengatakan :
"kefahaman adalah cahaya yang menyinari hati,  ia tidak diberikan kecuali kepada orang yang duduk bersama orang-orang shalih atau mempelajari kitab-kitab mereka."