Oleh :
Reza
ibn Muhdhor Assegaf Som
Berbicara tentang rezeki mungkin di benak kita
wujudnya selalu berupa uang dan berupa
kekayaan tetapi ada yang jauh lebih bermanfaat dari itu yaitu rezeki yang diberikan
Alloh kepada kita berupa "Teman yang baik yang senantiasa mengingatkan
kita kepada kebaikan dan di dekatkannya kita kepada orang-orang sholih dan
'Aalim.” Sahabat yang sholih sangat bermanfaat bagi kita bukan hanya tatkala
kita di dunia saja tetapi tatkaa kita di akhirat sahabat yang sholih dapat
bermanfaat bagi kita semua yaitu dengan memberikan syafa’at kepada kita kelak
di akhirat.
Begitu berharganya sahabat yang
sholih, Sayyidina Umar bin Khattab mengatakan bahawasanya : “Nikmat yang paling
berharga setelah nikmat iman dan nikmat islam adalah nikmat memiliki teman yang
Sholih.”
Pada hakikatnya
sebuah pertemanan yang ada di dunia ini hanyalah kesia-siaan kecuali pertemanan
yang dilandasi keimanan dan kencintaan kepada Alloh serta saling mengingatkan
kepada jalan kebaikan.
الْأَخِلَّاء
يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ –٦٧-
Artinya
: “Teman-teman karib pada hari itu (kiamat) nanti saling bermusuhan satu sama
lain, kecuali mereka yang bertakwa.”
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata :
“Bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Alloh, maka pada
hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan kecuali
persahabatannya dilandasi cinta karena Alloh inilah yang kekal.”
Rasulullah memberikan kriteria-kriteria teman yang
hendaknya kita gauli yang ternukil pada satu hadits:
Suatu ketika Ibnu Abbas RA pernah bertanya kepada
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, "wahai Rasulullah, siapa teman duduk terbaik?".
Rasulullah
menjawab :
"Yaitu teman duduk yang melihatnya dapat
mengingatkan kaliyan kepada Alloh,
Ucapannya dapat menambah ilmu kaliyan, dan ilmunya dapat mengingatkan
kaliyan kepada akhirat." (HR. Abu Ya'la)
Disebutkan dalam hadits tersebut
1. "melihatnya dapat mengingatkan kaliyan
kepada Alloh" yang di maksudkan disini adalah orang yang baik/sholih
memiliki pancaran tersendiri, memiliki daya tarik sendiri maka dengan melihat
kesunggguhan mereka beribadah kepada Alloh maka akan menarik kita untuk
mengingat kepada Alloh
2. "Ucapannya dapat menambah ilmu kaliyan"
yang dimaksudkan disini adalah orang baik/sholih pasti yang mereka ucapkan
bukanlah ucapan yang tidak bermanfaat,
maka yang keluar dari mulut mereka perkataan-perkataan hikmah yang
mengandung ilmu di dalamnya"
3. "Ilmunya dapat mengingatkan kaliyan kepada
akhirat"
Tetapi
ironisnya di zaman sekarang ini orang-orang shalih, 'ulama bukan dijadikan
teman duduk melainkan mereka justru di diskriminalisasi, di hina, di lecehkan keadaan berbanding terbalik
dengan salafush shalih pada zaman dahulu yang mana mereka sangat menghormati
dan menjaga adab mereka kepada orang-orang yang shalih dan para 'Ulama karena
memang para Ulama’ ini haruslah dihormati di jadikan sebagai teman dan panutan
karena mereka adalah pewaris para nabi.
Al-Habib Ahmad bin Umar bin Sumaith, mengatakan :
"Kebaikan dan keburukan tertanam benihnya dalam
diri manusia, ia tidak akan nampak
kecuali ketika ia bergaul dengan orang lain,
jika ia bergaul dengan orang-orang baik maka akan nampak padanya
perbuatan baik. Dan jika ia bergaul dengan orang-orang yang suka berbuat
buruk, maka akan nampak perbuatan buruk
darinya.
Jadi, benih-benih kebaikan dan keburukan ini
sejatinya sudah ada pada diri kita, tergantung yang mana yang hendak kita
sirami. Ketika kita menyiram benih kebaikan maka benih kebaikan itu akan tumbuh
dan benih keburukan dengan sendirinya akan mati begitu sebaliknya ketika kita
menyirami benih keburukan maka yang akan tumbuh adalah benih keburukan dan
benih kebaikan akan mati dengan sendirinya itu semua tergantung dengan siapa
kita bergaul
Al-Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad RA mengatakan
:
"Ketahuilah bahwa bergaul dengan orang yang
baik dan duduk bersama mereka dapat menanamkan kecintaan kalian kepada kebaikan
di hati dan memiliki andil dalam membantu untuk melakukan kebaikan, sebagaimana
bergaul dengan orang yang buruk perilakunya dan duduk bersama mereka dapat
menanamkan kecintaan kalian kepada keburukan dalam hati dan keinginan berbuat
buruk."
Apabila
kita ingin melihat cerminan diri kita, perangai kita, bagaimana agama kita, maka lihatlah dengan siapa kita
berteman. Ketika kita berteman dengan
orang yang baik maka in syaa Alloh bisa dipastikan kita akan sama dengan mereka
karena teman kita adalah orang-orang yang baik dan ketika kita berteman dan
bergaul dengan orang orang yang buruk maka kita tidak akan lebih dari mereka.
Dalam hadits dikatakan :
الرجل على دين خليله فلينظر
أحدكم من يخالل
Artinya :"Seseorang itu mengikuti agama
temannya, maka perhatikan salah satu dari kaliyan siapa yang dijadikan
teman"
Rasulullah sangat mewanti-wanti kita semua untuk
berteman/bergaul dengan orang yang baik/sholih dan meninggalkan teman-teman
yang buruk perilakunya. Dalam pepatah jawa pun di sebutkan "Ojo Cedak Kebo
Gupak" yang apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah “Jangan
Mendekati Kerbau yang Kotor”. Pepatah tersebut mengajarkan kepada kita
bahwasannya dalam pergaulan kita sehari-hari harus jeli dan sangat berhati-hati
dalam memilih teman, mendekat saja kita dilarang apalagi kita jadikan sebagai
teman karib kita karena sudah bias dipasikan bahwasannya seorang teman dapat mempengaruhi agama, perilak, cara
pandang seseorang.
Suatu permisalan ketika kita bergaul, ketika kita
berteman dengan orang yang berjualan minyak wangi maka kita juga akan dapat
harumnya minyak wangi tersebut. Dan ketika kita bergaul, berteman dan mendekati seorang pandai besi
maka kita akan terkena bau asapnya.
Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi mengatakan :
"kefahaman adalah cahaya yang menyinari
hati, ia tidak diberikan kecuali kepada
orang yang duduk bersama orang-orang shalih atau mempelajari kitab-kitab
mereka."
